‘Absensi’ Maknanya ‘Kehadiran’ atau ‘Ketidakhadiran’ Sih?

Ada satu kata salah kaprah dalam wacana bahasa kita yang menggelikan bernama ’absensi’. Kata ini kita serap dari bahasa Belanda ‘absentie’ yang maknanya ‘ketidakhadiran’. Lawan katanya adalah ‘presentie’ yang bermakna ‘kehadiran’. Dalam bahasa Inggris dia disebut dengan ‘absence’ dan lawan katanya adalahattendance’. Namun entah bagaimana jalan ceritanya, di negeri kita ‘absensi’ malah dimaknai dengan ‘kehadiran’.

Sebelum saya mengupas lebih lanjut tentang keanehan kata ‘absensi’ ini, marilah kita mencermati surat pembaca yang dimuat pada Kompas hari ini (Rabu 22 Mei 2013). Judulnya adalah ‘Nilai Absensi Ryani Soedirman’. Ringkas cerita, seorang anggota DPR bernama Ryani Soedirman menyatakan sanggahan atas berita yang dikutip dari BK DPR yang memuat namanya dalam daftar anggota DPR yang tingkat kehadirannya kurang dari 50 persen. Dia menjelaskan bahwasanya dia menjadi anggota DPR melalui mekanisme PAW (Pergantian Antar Waktu) dan baru mulai aktif pada Oktober 2012, sedangkan BK menghitung kehadiran anggota dewan dimulai dari tahun 2009 (sesuai dengan masa bakti DPR 2009-2014).

Menjelang akhir dari surat pembaca ini, Ryani Soedirman menuliskan [Sesuai absensi dari Sekretariat DPR yang disampaikan BK mengenai absensi persidangan untuk masasidang I 2012-2013, nilai absensi saya adalah 100 persen]. Di sinilah letak kelucuan dan (mungkin) kekonyolan dari kata ‘absensi’ ini. Apakah kita menginterpretasikan sebagai ’nilai ketidakhadiran yang bersangkutan 100 persen’ (berarti bolos total) ataukah ’nilai kehadiran yang bersangkutan 100 persen (berarti tak pernah bolos).

Kerunyaman kata ’absensi’ ini lebih diperparah, karena kita mengenal kata ’absen’ yang maknanya ’tidak hadir’ (ini sudah tepat definisinya). Alhasil, kita diombang-ambingkan pada dualisme permaknaan ’absensi’ ini, bisa ’kehadiran’, bisa juga ’ketidakhadiran’. Istilah ’daftar absensi’ juga sangat rancu, karena di situ termuat nama dan paraf orang yang hadir dan bukan yang absen. Seharusnya, karena kita sudah kepalang tanggung menyerap dari kata Belanda ini, maka dia harus disebut dengan ’daftar presensi’ (dari kata ’presentie’ = kehadiran).

Bicara soal ’absensi’ kita tak bisa lepas dari istilah unik ’bolos’. Di media massa, belum lama ini diberitakan anggota-anggota DPR yang suka ’membolos’. Dari mana kita memperoleh istilah ’bolos’ ini? Kata ’bolos’ memang dahulu secara khusus ditujukan pada anak sekolah yang tidak hadir tanpa keterangan yang jelas. Anda barangkali masih ingat dengan lirik lagu ’Amri membolos – kata bu guru – jangan membolos – menyusahkan ibu’. Boleh percaya atau tidak, kata ’bolos’ ini juga kita serap dari bahasa Belanda ’spijbelaars’ (maknanya ’anak-anak yang suka membolos’). Sebagaimana lazimnya kata-kata Belanda lain yang sulit ditangkap di telinga kita, istilah ini cuma terdengar ’belaars’ saja, dan lama-kelamaan bersalin rupa menjadi ’bolos’.

Dua kata warisan dari bahasa Belanda, ’absensi’ dan ’bolos’ ini, belakangan ini membuat sejumlah anggota DPR kebakaran jenggot karena dituding makan gaji buta.